Sosial Budaya

“JANGAN MENG-KUCING-KAN HARIMAU DAN JANGAN MEN-CICAK-KAN BUAYA”

Oleh. Prof. Dr. Hb. Idrus Alhamid, S.Ag, M.Si

Suara Minor Cendikiawan Poros INTIM

Tema sebagaimana tersebut di atas memantik akal budi setiap mereka yang memahami fenomena kekinian yang memperlihatkan ‘Dagelan Metafora Simbolis’, yang untuk itu setiap orang berusaha melemahkan orang yang berpotensi dalam bidang tertentu, hanya dikarenakan rivalitas dalam mengunggah identitas ‘komunal eklusisfisme’ dalam bayang-bayang sahwa sangka.

Untuk itu. setiap jiwa terpenjara dengan bayang-bayang masa lalu hingga terkurung oleh kegelisahan ‘Simbolis’ karena takut te-saingi, hingga tidak kita sadari, mereka sedang berusaha ‘Mengkucingkan Harimau atau Mencicakkan buaya’. Apa mungkin ini yang disebut ‘Kolonialis Primitif modern’? Artinya, penampilan terkesan modern namun gesture terlihat ‘Antagonis Primitifisme’.

Pasti kita pernah tahu, jika Thales mengatakan ‘Setiap sesuatu yang mati maupun hidup memiliki jiwa {hylezoisme} sebagai magnet’.  Maka setiap jiwa harus berusaha menggapai puncak kesempurnaan dari setiap kejadian. Sementara itu, Al-Farabi mengatakan, ‘Jiwa adalah kesempurnaan pertama bagi jisim (tubuh) alami yang organis, yang memiliki kehidupan dalam bentuk potensial’. Sehingga untuk itu setiap jiwa tidak boleh dalam tekanan hanya karena perbedaan kepentingan atau asumsi rivalitas, sebagaimana kaum Demagog.

Imam Shamsi Ali dalam Republika menyampaikan, kesuksesan kolektif jauh lebih menguntungkan kelangsungan hidup dalam eksistensi sosial ketimbang uniformality atau berusaha untuk membuat semua orang harus seragam dengan kita. Kita tidak mau tahu apapun kondisinya, ini yang tidak kita sadari bawa kita sedang berada di pergumulan orang-orang pikun yang selalu mencicakkan Buaya dan mengkucingkan Harimau.

Saudara-saudaraku, dengan tidak bermaksud menggurui setiap kita, saya mengajak bBahwa sudah saatnya, setiap kita merekonstruksi kembali indentitas dan cara berpikir kita dalam memahami fenomena alam djagat raya di sekeliling kita. (*)

(Jayapura, 20/02/2021)

By. Profesor Si Hitam Manis Pelipur lara di Timur Nusantara, mengajak kita keluar dari penjara “Kalbun hasaad”

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *